Senin 17 Desember 2018, Komisi Teknis Energi Dewan Riset Nasional mengunjungi PT. Austindo Aufwind New Energy (AANE) di Belitung.

Dalam kunjungan, Manager PT AANE (Bapak Henry) menjelaskan bahwa Pengembangan usaha kelapa sawit ini di mulai tahun 1990 dengan mendapatkan HGU untuk penanaman kelapa sawit. Sedang gagasan pembangunan pembangkit listrik berbasis biogas baru dimulai tahun 2008, dan pembangunan pembangkitnya sendiri baru dimulai tahun 2010.Pembangkit ini dirancang dengan kapasitas 1,2 MW, ini terdaftar sebagai proyek Clean Development Mechanism (CDM) dan telah beroperasi secara penuh tahun 2012.  Permasalahan yang dihadapi adalah regulasi / kebijakan yang belum terintegrasi, sehingga penjualan listrik yang dihasilkan oleh PLN tidak mempunyai nilai tawar, sehingga pembangkit listrik tenaga biogas ini belum dapat sepenuhnya dapat memperoleh keuntungan financial (belum komersial).

Dalam presentasi pembangkit listrik tenaga biogas  yang disampaikan oleh Bapak Ivan  bahwa Proses produksi gas methan ini menggunakan limbah cair atau dikenal dengan POME (Palm Oil Mill Effluent). Melalui  proses fermentasi bakteri thermofilik anaerobic ini  menghasilkan gas methan dengan kadar sekitar 50-60%. Gas hasil fermentasi tersebut  dilakukan perlakuan yakni dengan gas scrubber dan bantuan blower, tanpa adanya pemisahan gas CO2-nya, sebelum masuk  ke mesin pembangkit listrik. Listrik yang dihasilkan dibeli oleh PLN berdasarkan Perjanjian Pembelian Tenaga Listrik, yang  beroperasinya mulai 1 Januari 2014 untuk jangka waktu 15 tahun. Penjualan listrik ke PLN ini terkendala dengan regulasi yang belum siap, sehingga harga jual listriknya tidak berubah yaitu Rp. 975 per Kwh, walaupun harga listrik di PLN sudah menaikkan tarif listrik beberapa kali.  Listrik digunakan oleh penduduk yang jumlahnya 2000 rumah, dengan kapasitas masing-masing 900 VA. Jumlah listrik ini telah mencukupi untuk Belitung.

Pembangkit masih sepenuhnya menggunakan mesin import, namun berbagai peralatan lainnya sudah diproduksi di dalam negeri. TKDN power plant perlu dihitung, dan diharapkan dapat mendukung  target program pemerintah tentang TKDN.

Pembangkit ini adalah usaha yang ditinjau dari segi bisnis tidak menguntungkan, namun keuntungan tersebut terkait dengan isu lingkungan, dimana pembangkit ini dapat mengurangi pencemaran limbah dari: (i) POME, (ii) Gas methan dan gas CO2 yang merupakan gas kategori gas rumah kaca, yang menyebabkan pemanasan global.

Kerjasama antara pihak penghasil energi perlu diatur dalam suatu regulasi kebijakan yang saling menguntungkan, sehingga semangat untuk menjaga lingkungan yang berkelanjutan dapat ditingkatkan.

 

Kesimpulan

·      Pembangkit listrik dengan bahan baku gas merupakan salah satu alternatif untuk program kemandirian energi

·      Pembangkit listrik ini belum dapat memberi peluang bisnis yang menguntungkan, namun mempunyai banyak manfaat untuk keberlanjutan lingkungan hidup.

(SPH)

 
Lihat Foto Lainnya