BERITA DRN TERKINI

Rapat dilaksanakan di Ruang Rapat lantai 6 Wisma MM UGM  Yogyakarta,  dibuka  dan dipimpin oleh Ketua Komtek Pangan dan Pertanian. Dalam sambutannya disampaikan bahwa isu yang sangat santer yang akan dibahas saat ini adalah Hilirisasi dan Komersialisasi.  Draft ARN yang pada dasarnya sudah selesai perlu disempurnakan dengan semangat hilirisasi dan komersialisasi hasil riset dengan  menyelipkan konsep hilirisasi dan komersialisasi yaitu bagaimana hasil riset dapat diimplementasikan  ke industri.  Disampaikan pula bahwa pada rapat komtek ini akan mendengar masukan dari narasumber yang berasal dari akademisi dan praktisi untuk memperkaya ARN dalam hal hilirisasi dan komersialisasi.

Rapat dilaksanakan di Ruang Rapat lantai 6 Wisma MM UGM  Yogyakarta,  dibuka  dan dipimpin oleh Ketua Komtek Pangan dan Pertanian. Dalam sambutannya disampaikan bahwa isu yang sangat santer yang akan dibahas saat ini adalah Hilirisasi dan Komersialisasi.  Draft ARN yang pada dasarnya sudah selesai perlu disempurnakan dengan semangat hilirisasi dan komersialisasi hasil riset dengan  menyelipkan konsep hilirisasi dan komersialisasi yaitu bagaimana hasil riset dapat diimplementasikan  ke industri.  Disampaikan pula bahwa pada rapat komtek ini akan mendengar masukan dari narasumber yang berasal dari akademisi dan praktisi untuk memperkaya ARN dalam hal hilirisasi dan komersialisasi.

Hasil Diskusi :

Diskusi dalam rapat mengangkat perlunya pemfokusan draft ARN dengan kriteria krisis, berkelanjutan ke masa depan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara masal.  Fokusing perlu menjadi komitmen, karena bila tidak focus, maka ARN tidak akan digunakan sebagai acuan.

Dalam menyusun ARN perlu dilengkapi dengan berbagai hal, yaitu: (i) kebijakan, (ii) SDM, (iii) infrastruktur, (iv) anggaran, dan (v) instansi terkait, sehingga dapat direalisasikan.

Dalam rangka penyempurnaan draft ARN, maka ke depan perlu dipertimbangkan jenis-jenis riset yang relevan, baik riset dasar maupun riset terapan, dan sekaligus dapat dijadikan masukan untuk penyusunan Grand Design di Kemenristekdikti.

Komtek Pangan perlu mengacu pada  usulan Kadin tentang “Feed The World”, yang maknanya tidak saja ketahanan pangan tetapi juga dapat mengeksport produk pangan ke luar negeri.  Untuk ini diperlukan revitalisasi pertanian, perkebunan dan kehutanan, dengan mengusung kembali pangan-pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Dalam merealisasikan diversifikasi pangan, peran pemerintah perlu diperjelas, khususnya dalam mendukung kebijakan dapat mempersiapkan logistiknya.  Kebutuhan pangan perlu dikoreksi yaitu karbohidrat, protein dan lemak, sehingga untuk pemenuhannya dapat digunakan dari berbagai jenis sumber, termasuk komoditas pangan lokal. Untuk pemenuhan karbohidrat jangan hanya bicara nasi, untuk protein jangan hanya bicara daging, perlunya makanan beragam dan berbasis pada pangan lokal. Untuk ini perlu menyusun “Buku Putih” yang dapat disampaikan kepada Pemerintah.

Pada saat ini, import pangan tidak dapat dihindari, dan untuk ini diperlukan koordinasi dan bekerja secara sinergi antara Kementerian yang terkait. Kasus import jagung yang tertunda pembongkarannya adalah bukti tidak adanya koordinasi dan sinkronsikasi Kementerian terkait. Disamping itu, perlunya memahami berbagai isu penting pada Kabinet Kerja yaitu  Nuansa Pemerintahan Baru dengan memperkuat sinergi dan simplisiti.  Khususnya di bidang pangan perlunya mengembangkan  kawasan pengembangan pangan (bukan food estate), karena  food estate akan bertentangan tanah adat, yang mencakup pula diversifikasi pangan (karbohidat, protein dan lemak).

Dalam upaya mengantisipasi perubahan iklim, varietas unggul yang toleran terhadap berbagai cekaman perlu mendapat perhatian.  Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan adalah Indikasi geografis, mengingat setiap daerah mempunyai spesifikasi tertentu produk pangan baik pangan pokok maupun pangan lainnya.  Di Kalimantan terdapat 74 varietas padi lokal dari Kalimantan yang dipelihara masyarakat dayak merupakan bentuk keanekaragaman (biodiversitas)  dengan spesifik lokasi.

 Dari diskusi yang dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan :

  1. Dalam melakukan reformulasi ARN, perlu melihat UUD 18 sebagai acuan, apakah diperlukan untuk melakukan revisi
  2. Dalam  penyusunan ARN perlu dilakukan  sinergi antar Komtek.
  3. Hilirisasi, bukan sekedar ARIN tetapi ARIN plus  implementasi hasil riset ke dunia industri
  4. Diversifikasi pangan sangat penting di tingkat nasional bukan hanya tugas Kementerian Pertanian tapi  berhubungan erat dengan Kementerian lain, dan mempunyai fungsi lain misalnya dengan energy,  fungsional food dan sebagainya.
  5. Jagung menjadi idola, tapi untuk jangka pendek belum mendesak, karena untuk pakan saja belum tercukupi /kurang
  6. Para ahli mengisyaratkan pertanian kembali ke alam: memahami geografis, spesifik lokasi, dengan local wisdom
  7. Industri pangan berdimensi lain dan sangat diperlukan bersinergi  dengan  Komtek lain
  8. Guna mengisi permintaan Dirjen Kemenristekdikti akan dibuat  thema bidang pangan dan pertanian adalah  diversifikasi pangan.
  9. Berbagai  deliverable products: ARIN, Grand Design pembangunan Iptek, Hilirisasi, (RPMN Iptek), program riset industry dan white paper  akan disampaikan ke pemerintah via Menteri Ristekdikti. Selain ini diperlukan menggerakan sumber pendanaan yang ada serta  menggangkat peran perekayasa yang sangat diperlukan dalam hilirisasi dan komersialisai bidang pangan dan pertanian.