BERITA DRN TERKINI

Komisi teknis (Komtek) kesehatan dan obat Dewan Riset Nasional (DRN) mengadakan rapat pada tanggal 20 November 2015 untuk membahas prioritizing serta penajaman tema Agenda Riset Nasional bidang Kesehatan-Obat yang dikaitkan dengan hasil rapat BP tentang rencana penyusunan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). Rapat dihadiri oleh Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM (K)selaku Ketua Komtek Kesehatan dan Obat, Prof. Dr. Suyanto Prawiroharsono  selaku  Staf professional DRN, Dr. Agung Eru Wibowo.,Apt – Asisten Komtek KO DRN, Dr. Ahmad Saufi – perwakilan dari Kemenristekdikti, Prof. Dr, H. Achmad Syahrani, MS,Apt dan Dr. Trisna Wahyuni Putri, M.Kes selaku anggota dan didampingi oleh sekertariat DRN Sunar, M.Adm .

Dari pertemuan tersebut diperoleh hasil mengenai pandangan terhadap agenda rist nasional (ARN). Implementasi agenda riset nasional yang telah disusun oleh DRN hingga saat ini masih jauh dari yang diharapkan. Permasalahan yang ada dikarenakan kekuatan hukum (legal standing) dan dukungan anggaran riset untuk implementasi ARN belum cukup dan kuat.

Solusi yang diusulkan dari permasalahan tersebut yaitu perlunya audiensi dengan Menko Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan terkait upaya penguatan koordinasi lintas K/L bidang riset dan iptek dan koordinasi lintas kementerian. Koordinasi ditingkat Menko ini diharapkan bisa memberikan penguatan sinergi dan akselerasi riset serta pembangunan iptek nasional.Penguatan koordinasi dalam hal ini meliputi aspek kelembagaan riset, penguatan anggaran dan skema distribusinya (block grand), penguatan pendidikan untuk meningkatkan iptek dan tentang Blue Print Riset Nasional.

Mengacu pada hasil Rapat BP Dewan Riset Nasional pada tanggal 20 November 2015 beberapa Point penting perlu ditindaklanjuti oleh setiap komtek seperti : (i). Telah terbangun wacana dan semangat dari Kemneristekdikti untuk menyusun suatu payung dan acuan nasional pelaksanaan riset yang akan dijadikan landasan dan acuan bagi seluruh Kementerian/Lembaga, Perguruan Tinggi dan institusi riset lain dalam melaksanakan kegiatan penelitian. Acuan nasional tersebut dituangkan dalam bentuk dokumen yang disebut Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). (ii). Dewan Riset Nasional sebagai think thank Kemenristekdikti, merasa perlu untuk merespon wacana dan semangat tersebut.. (iii). Draft Agenda Riset Nasional 2015-2019 yang telah disusun oleh DRN periode sebelumnya, dianggap tepat sebagai substansi inti yang akan mengisi RIRN dimaksud. (iv). Terkait hal tersebut setiap komtek perlu melakukan ekstraksi dan  prioritizing tema riset yang ada dalam draft ARN 2015-2019 menjadi tema prioritas dalam RIRN dan  diterjemahkan dalam bentuk matrik kegiatan selama 5 tahun.

Beberapa masukan terkait tema riset yang telah disusun dalam draft ARN 2015-2019 bidang Kesehatan dan Obat, adalah riset Otak Sehat untuk membangun karakter bangsa. Tema riset tersebut dipilih karena dianggap penting dan relevan, utamanya dikaitkan dengan misi presiden untuk melakukan revolusi mental bangsa Indonesia. Topik riset tersebut ada baiknya diarahkan pada perilaku, kemampuan  dan keseimbangan berfikir rasional dengan tujuan membangun integritas, etos kerja dan semangat gotong royong generasi muda. Tema riset lainnya yaitu Pengembangan produk Biofarmasi-Biosimilar dan Sel Punca yang difokuskan pada topik riset pengembangan vaksin dan stem cell. riset pengembangan vaksin penting dilakukan dalam rangka kemandirian produk vaksin untuk dukungan kegiatan tersebut perlu ada strategi percepatan atau exit policy yang terukur. Hal tersebut dikarenakan pengembangan produk vaksin memiliki periode waktu yang panjang dari awal hingga menjadi produk.

Riset stem cell khususnya untuk pengobatan penyakit jantung dan kanker penting untuk dikembangkan dalam bentuk riset translasional (riset aplikasi klinis). Sama halnya dengan riset pengembangan vaksin, perlu dukungan regulasi yang tepat dan kajian aspek industrialisasi stem cell. Tema riset kesehatan dan obat yang perlu diperhatikan juga adalah riset pengembagan obat herbal. Sebaiknya tema riset obat herbal lebih diarahkan pada tujuan preventif dan promotif. Riset pengembangan obat herbal merupakan terobosan penting untuk mediasi antara obat klinis dan jamu. Penelitian dalam ranah saintifikasi jamu pada dasarnya telah berjalan dengan baik sayangnya untuk skala  lebih besar (massal/ industri) diperlukan kajian dari aspek teknis, ekonomi dan administrasi.

Tema riset selanjutnya adalah riset pengembangan diagnostik dan alat Kesehatan, beberapa kegiatan riset ini telah dilakukan di beberapa perguruan tinggi  atau lembaga riset. Usaha menuju hilirisasi ada baiknya dilanjutkan melalui pendekatan market driven yaitu inovasi teknologi dari prototipe yang ada dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar. Pengembangan rapid test diagnostik  prioritas yang perlu dilanjutkan adalah demam dengue dan HIV, sedangkan untuk pengembangan alat kesehatan yang menjadi instrumentasi medik prioritas  yang perlu menjadi prioritas adalah peralatan EKG dan Stamp jantung.

            Tingginya ketergantungan Tema Riset Pengembangan Bahan Baku Obat (BBO) pada import seharusnya menjadi pemicu utama membangun komitmen nasional pengembangan BBO kementerian. Untuk permulaan, Kementerian Kesehatan telah menyusun roadmap pengembangan BBO sedangkan Kementerian Perindustrian telah menetapkan industri farmasi menjadi salah satu industri prioritas pada RIPIN. Dewan Riset nasional melalui komisi teknis kesehatan perlu melakukan penilaian dan ulasan yang dalam terhadap RIPIN dan roadmap pengembangan BBO yang diharapkan dapat menjadi rekomendasi prioritas riset BBO yang perlu diagendakan pada ARN maupun RIRN.