|
Inovasi dan Masa Depan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia>
Inovasi dan Masa Depan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Indonesia Masih dalam rangkaian diskusi dalam tema Sistem Inovasi Nasional pada tanggal 30 Juni 2010, diketengahkan diskusi dengan tema yang mengangkat Sistem Inovasi di Bidang Energi Nuklir menghadirkan pembicara dari Deputi Bidang Jaringan IPTEK Kementerian Riset dan Teknologi, Prof. Dr. Syamsa Ardi Sasmita, DEA dan Kepala BATAN yang juga merupakan Ketua Komisi Teknis DRN Bidang Energi, Dr. Hudi Hastowo. Diskusi ini dimoderatori Dr. Syahril. Inovasi pada dasarnya harus menjawab kebutuhan dan permasalahan di lapangan. Sebagai contoh diceritakan Bapak Hudi Hastowo, pada instalasi energi pernah terjadi kebocoran tabung dan untuk mengidentifikasi kebocoran ini diperlukan senyawa tracer berupa zat radioaktif yang larut dalam pelarut organik yang aman bagi proses dalam instalasi tersebut. Dalam pengalaman lain, pemanfaatan teknologi nuklir dalam mencari bibit unggul yang dibutuhkan petani dilakukan sebagai kerjasama dengan pimpinan daerah. Dengan demikian inovasi dapat berkembang dengan peran pemimpin daerah yang dapat memotret potensi lokal. Terkait PLTN, rencana pembangunan dan pengoperasian PLTN pada 2017 adalah berdasarkan amanat UU Nomor 17 tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJN). Disampaikan dalam UU tersebut pada tahun 2017 Indonesia harus sudah memiliki PLTN. Oleh karena itu saat ini sedang disiapkan inovasi dan infrastruktur pembangunan PLTN serta sosialisasi khususnya di daerah tempat akan dibangunnya PLTN tersebut.
Prof. Dr. Syamsa juga menyorot pentingnya dibangun PLTN yang aman dan ramah lingkungan. Upaya membangun PLTN di Indonesia sudah dirintis sejak masa Presiden Soekarno dimana Indonesia telah bekerjasama dengan Rusia pada saat itu membangun Pusat Reaktor Nuklir di Serpong. Terkait Sistem Inovasi Nasional dan pengembangan IPTEK, Dr. Syamsa yang saat ini juga memegang kuasa anggaran program Insentif Riset menyampaikan harapan agar Indonesia mempunyai satu inovasi yang bisa dijadikan Landmark Teknologi (merujuk pada kesuksesan teknologi pesawat pada pemerintahan Menristek periode Prof. B.J. Habibie). Diskusi ditutup oleh moderator dengan menyampaikan bahwa IPTEK perlu dikawal agar berlanjut dan memiliki nilai tambah yang semakin besar. |